Life's World

Entry About Shout Friends Follow D'Board


  • Hi... Welcome to my blog. Bla..bla...bla... add your own words !


owner

Contact Me

credits
22.58 | 0 Cloud(s)
Lambang-lambang Kerajan Islam di Nusantara

1. Lambang Kerajaan Samudera Pasai

lambang kerajaan yang mirip dengan lambang Garuda Pancasila

2. Lambang Aceh Darussalam






3.  Lambang Kerajaan Mataram Islam

4. Lambang Kerajaan Ternate


5. Lambang Kerajaan Tidore


6. Lambang Kerajaan Gowa-Tallo
7. Kerajaan Bone





8.Lambang kerajaan Cirebon
9. Lambang Kerajaan Banten
10.  Lambang Pakubuwana Surakarta

11. Lambang Pakualaman


12. Lambang Mangkunegara

13. Lambang Kesultanan Kadriah


































Label:

23.19 | 0 Cloud(s)
Sejarah Israel & Palestina

Israel yang dalam bahasa Ibrani  מדינת ישראל Medinat Yisra‘el, dan dalam bahasa Arab دولة إسرائيل Dawlat Isrā’īl merupakan sebuah negara di Timur Tengah yang dikelilingi Laut Tengah, Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir dan gurun pasir Sinai. Israel juga dikelilingi dua daerah Otoritas Nasional Palestina, Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Israel merupakan satu-satunya negara Yahudi di dunia dengan penduduk sekitar 7,28 juta jiwa.Selain Yahudi, terdapat juga beberapa kelompok etnis minoritas seperti etnis Arab yang berkewarganegaraan Israel. Di Israel juga terdapat beberapa agama lain seperti Muslim, Kristen, Druze, Samaria, dan lain-lain.

Awal Sejarah IsraelMenurut kitab Taurat, Tanah Israel dijanjikan kepada tiga Patriark Yahudi oleh Tuhan sebagai tanah air Yahudi. Sekitar abad ke-11 SM, beberapa kerajaan dan negara Israel didirikan disekitar Tanah Israel.

Antara periode Kerajaan-kerajaan Israel dan penaklukan Muslim abad ke-7, Tanah Israel jatuh di bawah pemerintahan Asiria, Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, Sassania, dan Bizantium.
Keberadaan orang Yahudi di wilayah tersebut berkurang drastis setelah kegagalan Perang Bar Kokhba melawan Kekaisaran Romawi pada tahun 132, menyebabkan pengusiran besar-besaran Yahudi.
Pada tahun 628/9, Kaisar Bizantium Heraklius memerintahkan pembantaian dan pengusiran orang-orang Yahudi, mengakibatkan populasi Yahudi menurun lebih jauh lagi.
Tanah Israel direbut dari Kekaisaran Bizantium sekitar tahun 636 oleh penakluk muslim. Selama lebih dari enam abad, kontrol wilayah tersebut berada di bawah kontrol Umayyah, Abbasiyah, dan Tentara Salib sebelum jatuh di bawah Kesulatanan Mameluk pada tahun 1260.
Pada tahun 1516, Tanah Israel menjadi bagian dari Kesultanan Utsmaniyah, yang memerintah wilayah tersebut sampai pada abad ke-20.

Zionisme dan Mandat Britania

Pengusiran besar-besaran Yahudi atau yang biasa disebut Diaspora Yahudi, menyebabkan tersebarnya Yahudi ke berbagai negara. Pada permulaan abad ke-12, penindasan Yahudi oleh Katolik mendorong perpindahan orang-orang Yahudi Eropa kembali ke Tanah Suci. Dan perpindahan itu meningkatkan jumlah populasi Yahudi setelah pengusiran orang Yahudi dari Spanyol pada tahun 1492.
Selama abad ke-16, komunitas-komunitas besar Yahudi kebanyakan berpusat pada Empat Kota Suci Yahudi, yaitu Yerusalem, Hebron, Tiberias, dan Safed.
Pada pertengahan kedua abad ke-18, keseluruhan komunitas Hasidut yang berasal dari Eropa Timur telah berpindah ke Tanah Suci.
Imigrasi dalam skala besar, atau dikenal sebagai Aliyah Pertama (עלייה), di mulai pada tahun 1881, yaitu pada saat orang-orang Yahudi melarikan diri dari pogrom di Eropa Timur.
Pada tahun 1896, Theodor Herzl menerbitkan buku Der Judenstaat (Negara Yahudi), dan memaparkan visinya tentang negara masa depan Yahudi, Tahun berikutnya ia kemudian mengetuai Kongres Zionis Dunia pertama.
Aliyah Kedua (1904–1914) dimulai setelah terjadinya pogrom Kishinev. Sekitar 40.000 orang Yahudi kemudian berpindah ke Palestina.
Selama Perang Dunia I, Menteri Luar Negeri Britania Arthur Balfour mengeluarkan pernyataan yang dikenal sebagai Deklarasi Balfour, yaitu deklarasi yang mendukung pendirian negara Yahudi di tanah Palestina.
Atas permintaan Edwin Samuel Montagu dan Lord Curzon, disisipkan pula pernyataan “it being clearly understood that nothing shall be done which may prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in Palestine, or the rights and political status enjoyed by Jews in any other country“.
Legiun Yahudi, batalion yang terdiri dari sukarelawan-sukarelawan Zionis, kemudian membantu Britania menaklukkan Palestina. Oposisi Arab terhadap rencana ini berujung pada Kerusuhan Palestina 1920 dan pembentukan organisasi Yahudi yang dikenal sebagai Haganah (Bahasa Ibrani : Pertahanan).
Pada tahun 1922, Liga Bangsa-Bangsa mempercayakan mandat atas Palestina kepada Britania Raya. Populasi wilayah ini pada saat itu secara dominan merupakan Arab muslim, sedangkan pada wilayah perkotaan seperti Yerusalem, secara dominan merupakan Yahudi.
Aliyah Ketiga (1919–1923) dan Aliyah Keempat (1924–1929), secara keseluruhan membawa 100.000 orang Yahudi ke Palestina. Setelah terjadinya kerusuhan Jaffa, Britania membatasi imigrasi Yahudi, dan wilayah yang ditujukan sebagai negara Yahudi dialokasikan di Transyordania.
Gerakan Nazi pada tahun 1930 menyebabkan Aliyah kelima (1929-1939) dengan masukknya seperempat juta orang Yahudi ke Palestina. Gelombang masuknya Yahudi secara besar-besaran ini menimbulkan Pemberontakan Arab di Palestina 1936-1939, memaksa Britania membatasi imigrasi dengan mengeluarkan Buku Putih 1939.
Sebagai reaksi atas penolakan negara-negara di dunia yang menolak menerima pengungsi Yahudi yang melarikan diri dari Holocaust, dibentuklah gerakan bawah tanah yang dikenal sebagai Aliyah Bet yang bertujuan untuk membawa orang-orang Yahudi ke Palestina.
Pada akhir Perang Dunia II, jumlah populasi orang Yahudi telah mencapai 33% populasi Palestina, meningkat drastis dari sebelumnya yang hanya 11% pada tahun 1922.

Kemerdekaan Israel

Setelah 1945, Britania Raya menjadi terlibat dalam konflik kekerasan dengan Yahudi. Pada tahun 1947, pemerintah Britania menarik diri dari Mandat Palestina, menyatakan bahwa Britania tidak dapat mencapai solusi yang diterima baik oleh orang Arab maupun Yahudi.

Badan PBB yang baru saja dibentuk kemudian menyetujui Rencana Pembagian PBB (Resolusi Majelis Umum PBB 18) pada 29 November 1947. Rencana pembagian ini membagi Palestina menjadi dua negara, satu negara Arab, dan satu negara Yahudi. Yerusalem ditujukan sebagai kota Internasional – corpus separatum – yang diadministrasi oleh PBB untuk menghindari konflik status kota tersebut.
Komunitas Yahudi menerima rencana tersebut, tetapi Liga Arab dan Komite Tinggi Arab menolaknya atas alasan kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh wilayah tanah meskipun hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah ini. Pada 1 Desember 1947, Komite Tinggi Arab mendeklarasikan pemogokan selama 3 hari, dan kelompok-kelompok Arab mulai menyerang target-target Yahudi.
Perang saudara dimulai ketika kaum Yahudi yang mula-mulanya bersifat defensif perlahan-lahan menjadi ofensif. Ekonomi warga Arab-Palestina runtuh dan sekitar 250.000 warga Arab-Palestina diusir ataupun melarikan diri.
Pada 14 Mei 1948, sehari sebelum akhir Mandat Britania, Agensi Yahudi memproklamasikan kemerdekaan dan menamakan negara yang didirikan tersebut sebagai “Israel“. Sehari kemudian, gabungan lima negara Arab – Mesir, Suriah, Yordania, Lebanon dan Irak –menyerang Israel, menimbulkan Perang Arab-Israel 1948.Maroko, Sudan, Yemen dan Arab Saudi juga membantu mengirimkan pasukan.
Setelah satu tahun pertempuran, genjatan senjata dideklarasikan dan batas wilayah sementara yang dikenal sebagai Garis Hijau ditentukan. Yordania kemudian menganeksasi wilayah yang dikenal sebagai Tepi Barat dan Yerusalem Timur, sedangkan Mesir mengontrol Jalur Gaza. Israel kemudian diterima sebagai anggota PBB pada tanggal 11 Mei 1949. Selama konflik ini, sekitar 711.000 orang Arab Palestina (80% populasi Arab) mengungsi keluar Palestina.
Pada masa-masa awal kemerdekannya, gerakan Zionisme buruh yang dipimpin oleh Perdana Menteri David Ben-Gurion mendominasi politik Israel. Tahun-tahun ini ditandai dengan imigrasi massal para korban yang selamat dari Holocaust dan orang-orang Yahudi yang diusir dari tanah Arab.
Populasi Israel meningkat dari 800.000 menjadi 2.000.000 dalam jangka waktu sepuluh tahun antara 1948 sampai dengan 1958. Kebanyakan pengungsi tersebut ditempatkan di perkemahan-perkemahan yang dikenal sebagai ma’abarot. Sampai tahun 1952, 200.000 imigran bertempat tingal di kota kemah ini.
Selama tahun 1950-an, Israel terus menerus diserang oleh militan Palestina yang kebanyakan berasal dari Jalur Gaza yang diduduki oleh Mesir.
Pada tahun 1956, Israel bergabung ke dalam sebuah aliansi rahasiaBritania Raya bersama dengan dan Perancis, yang betujuan untuk merebut kembali Terusan Suez yang sebelumnya telah dinasionalisasi oleh Mesir. Walaupun berhasil merebut Semenanjung Sinai, Israel dipaksa untuk mundur atas tekanan dari Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai ganti atas jaminan hak pelayaran Israel di Laut Merah dan Terusan Suez.Pada tahun 1967, Mesir, Suriah, dan Yordania menutup perbatasannya dengan Israel dan mengusir pasukan perdamaian PBB keluar dari wilayah tersebut serta memblokade akses Israel terhadap Laut Merah.
Israel kemudian melancarkan serangan terhadap pangkalan angkatan udara Mesir karena takut akan terjadinya invasi oleh Mesir. Hal ini kemudian berujung pada Perang Enam Hari yang kemudian dimenangkan oleh Israel. Pada perang ini, Israel berhasil merebut Tepi Barat, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, dan Dataran Tinggi Golan.
Garis Hijau menjadi penanda batas antara wilayah administrasi Israel dengan Wilayah pendudukan Israel. Batas wilayah Yerusalem juga diperluas dengan memasukkan wilayah Yerusalem Timur. Sebuah undang-undang yang mengesahkan pemasukan wilayah ini kemudian ditetapkan. Hal ini kemudian berujung pada Resolusi Dewan Keamanan PBB 478 yang menyatakan bahwa penetapan ini tidak sah dan melanggar hukum internasional.
Kegagalan negara-negara Arab pada perang tahun 1967 kemudian menyebabkan tumbuhnya gerakan kemerdekaan Palestina oleh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).
Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, beberapa kelompok militer Palestina melancarkan berbagai gelombang serangan terhadap warga-warga Israel di seluruh dunia, termasuk pula pembunuhan atlet-atlet Israel pada Olimpiade München 1972. Israel membalas aksi tersebut dengan melancarkan Operasi Wrath of God (Kemarahan Tuhan). Pada operasi ini, orang-orang yang bertanggung jawab terhadap peristiwa München ini dilacak dan dibunuh.
Pada hari Yom Kippur 6 Oktober 1973 yang merupakan hari suci Yahudi, pasukan Mesir dan Suriah melancarkan serangan mendadak terhadap Israel. Perang tersebut berakhir pada tanggal 26 Oktober dengan Israel berhasil memukul balik pasukan Mesir dan Suriah. Walaupun demikian perang ini dianggap sebagai kekalahan Israel.
Pemilihan Knesset 1977 menandai terjadinya titik balik dalam sejarah perpolitikan Israel. Pada pemilihan ini, Menachem Begin yang berasal dari partai Likud mengambil alih kontrol pemerintahan dari Partai Buruh Israel. Pada tahun itu pula, Presiden Mesir Anwar El Sadat melakukan kunjungan ke Israel dan mengucapkan pidato di depan Knesset. Aksi ini dilihat sebagai pengakuan kedaulatan Israel yang pertama oleh negara Arab.
Dua tahun kemudian, Sadat dan Menachem Begin menandatangani Persetujuan Camp David dan Perjanjian Damai Israel-Mesir. Israel menarik mundur pasukannya dari semenanjung Sinai dan setuju untuk bernegosiasi membahas otonomi warga Palestina yang berada di luar Garis Hijau. Namun, rencana tersebut tidak pernah diimplementasi.
Pemerintahan Begin mendukung warga Israel untuk bermukim di Tepi Barat, mengakibatkan konflik dengan warga Palestina di daerah tersebut.
Pada tanggal 7 Juni 1981, Israel membom bardir reaktor nuklir Osirak milik Irak pada Operasi Opera. Badan intelijen Israel, Mossad, mencurigai reaktor nuklir tersebut akan digunakan Irak untuk mengembangkan senjata nuklir.
Pada tahun 1982, Israel melakukan intervensi pada Perang Saudara Lebanon untuk menghancurkan basis-basis serangan Organisasi Pembebasan Palestina di Israel Utara. Intervensi ini kemudian berkembang menjadi Perang Lebanon Pertama. Israel menarik pasukannya dari Lebanon pada tahun 1986. Intifada Pertama yang merupakan perlawanan rakyat Palestina terhadap pemerintahan Israel terjadi pada tahun 1987, menyebabkan terjadinya kekerasan di daerah pendudukan Israel.
Selama Perang Teluk 1991, PLO dan kebanyakan warga Palestina mendukung Saddam Hussein dan Irak dalam melancarkan serangan misil terhadap Israel.
Pada tahun 1992, Yitzhak Rabin menjadi Perdana Menteri Israel setelah memangkan pemilihan umum legislatif Israel 1992. Yitzhak Rabin dan partainya mendukung adanya kompromi dengan tetangga-tetangga Israel.
Tahun 1993, Shimon Peres dan Mahmoud Abbas, sebagai wakil Israel dan PLO, menandatangani Persetujuan Oslo. Persetujuan ini memberikan Otoritas Nasional Palestina hak untuk memerintah di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Selain itu, juga dinyatakan pula pengakuan hak Israel untuk berdiri dan menyerukan berakhirnya terorisme.
Pada tahun 1994, Perjanjian Damai Israel-Yordania ditandatangani, membuat Yordania menjadi negara Arab kedua yang melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.
Dukungan publik Arab terhadap persetujuan ini menurun setelah terjadinya peristiwa pembantaian umat muslim yang sedang bersembahyang di Masjid Ibrahimi oleh sekelompok ekstremis gerakan Kach. Selain itu, pemukiman warga Israel di daerah pendudukan yang masih berlanjut, serta menurunnya kondisi ekonomi Palestina juga menurunkan dukungan publik Arab.
Dukungan publik Israel terhadap persetujuan ini juga berkurang setelah terjadinya rentetan kasus bom bunuh diri yang dilakukan oleh hamas. Pembunuhan Yitzhak Rabin yang dilakukan oleh esktremis Yahudi ketika ia sedang meninggalkan sebuah pawai yang mendukung perdamaian dengan Palestina mengejutkan seluruh negeri.
Pada akhir 1990-an, Israel yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu menarik mundur pasukannya dari Hebron dan menandatangai Memorandum Sungai Wye. Memorandum tersebut memberikan Otoritas Nasional Palestina kontrol yang lebih luas.

 


Label:

05.50 | 0 Cloud(s)
Jejak Kejayaan Islam di Eropa dan Asia

Rahmatanlil’alamin, Rahmat bagi Semesta Alam, itulah anugerah yang Allah SWT berikan bagi agama Islam di bumi ini. Berbagai peradaban telah dibangun berlandaskan pada syariat Islam, namun semua itu hanya tinggal sejarah. Tidak hanya memiliki Jejak Kejayaan Islam di Istanbul, Turki, Islam pun memiliki banyak jejak kejayaan di berbagai belahan bumi ini. Life's Wolrd akan berbagi beberapa diantaranya, yaitu di Damaskus, Baghdad, dan Cordoba. Kota-kota tersebut adalah ibukota dari peradaban Islam yang sempat berkuasa dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat luas pada saat itu. Masing-masing memiliki sejarah yang kuat dan meninggalkan jejak kejayaan yang masih dapat dikagumi hingga saat ini.

Damaskus - Dinasti Umayyah

Damaskus termasuk kota tertua yang dihuni manusia dan Islam mulai memiliki pengaruh di kota tersebut pada era kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab. Panglima perang seperti Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Abu Ubaididah bin Jarrah, dan Yazid bin Abu Sufyan berhasil menunaikan tugas yang diberikan untuk menaklukkan daerah Suriah dan Palestina. Secara resmi, Damaskus berada dalam kekuasaan Islam pada September 635 M.
Pada 661 M, Mu‘awiyah bin Abu Sufyan mendirikan Dinasti Umayyah dan menetapkan Damaskus sebagai ibukota pemerintahan. Mengawali kekuasannya, Dinasti Umayyah fokus untuk memperluas wilayah kekuasaan Islam hingga ke Afrika Utara, Spanyol, Asia Tengah, Persia, serta India. Salah satu jejak kejayaan terbesar dari Dinasti ini adalah Masjid Umayyah yang masih dapat dilihat hingga saat ini. Pada masa kejayaannya, Masjid yang memiliki tiga buah menara, tiga buah kubah, empat buah mihrab, tiga buah saumaah, dan empat buat gapura ini menjadi pusat kegiatan umat Islam.
Damaskus terkenal akan kemakmuran dan sifat dermawan para penduduknya. Sederet lembaga amal berdiri untuk meringankan beban mereka yang membutuhkan. Damaskus juga menjadi pusat peradaban pendidikan dan setiap orang yang ingin meraih sukses akan datang ke kota ini untuk belajar. Berbagai fasilitas dan bantuan pendidikan sangat melimpah, sehingga para pelajar tidak perlu khawatir akan tempat tinggal dan kekurangan makanan. Pada era kejayaan Islam, terdapat 150 perguruan tinggi yang terdapat di Damaskus. Al-Nuriyyah Al-Kubra yang didirikan Khalifah Nur Al-Din menjadi perguruan tinggi terfavorit dan terbaik pada saat itu.
Kekuasaan Dinasti Umayyah berakhir pada 750 M dan digantikan oleh Dinasti Abbasiyah. Ibukota pemerintahan pun berpindah ke kota Baghdad.Dinasti Ustmani yang berasal dari Turki pun sempat menguasai Damaskus sekitar tahun 1560 M.  

Baghdad – Dinasti Abbasiyah
Baghdad boleh dibilang sebagai Ibukota peradaban pada abad pertengahan. Ketika Eropa dicengkram kegelapan, Baghdad telah menjadi sebuah kota yang memikat. Dibawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah, kota metropolis intelektual ini telah mencapai masa keemasannya dan telah mewariskan peradaban bagi dunia.
Baghdad yang memiliki arti hadiah dari Tuhan telah dijelajahi manusia sejak 4,000 SM. Pada 634 M, panglima tentara Islam, Khalid bin Walid, menaklukkan Persia atas perintah Khalifah Umar bin Khattab. Tahun 762 M, perkampuangan kecil itu disulap menjadi sebuah kota baru oleh Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur dari Dinasti Abbasiyah. Baghdad dipilih sebagai Ibukota pemerintahan Dinasti Abbasiyah, karena posisinya sangat strategis baik dari sisi politik, keamanan, sosial, serta geografis.
Sebanyak 100 ribu ahli bangunan dikerahkan untuk membangun Baghdad hingga menghabiskan dana sebesar 3,88 juta dirham. Kota tersebut dirancang berbentuk bundar sehingga dijuluki sebagai ‘Kota Bundar‘ dan dipagari oleh dua lapis tembok besar yang tingginya mencapai 90 kaki. Pada luar tembok dibangun parit yang dalam. Hal tersebut terinspirasi oleh Perang Khandaq pada zaman Rasulullah SAW.
Pada 800 M, Baghdad telah menjelma menjadi pusat peradaban, pendidikan, ilmu pengetahuan, perdagangan, ekonomi, dan politik. Puncak kejayaan Dinasti Abbasiyah tercapai pada era pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M) dan Khalifah Al-Ma’mun (813-833 M). Pada saat itu, terdapat Baitulhikmah yang merupakan sebuah lembaga penerjemah yang berkembang menjadi perguruan tinggi, perpustakaan, dan lembaga penelitian. Didalamnya terdapat ribuan koleksi buku, ruang baca yang sangat nyaman, ruang tinggal untuk para penerjemah, ruang untuk diskusi ilmiah hinggi area pengamatan bintang.
Setelah 500 tahun berkuasa, Dinasti Abbasiyah runtuh karena dihancurkan oleh bangsa Mongol pimpinan Hulagu Khan pada 1258 M. Ribuan sarjana dan 100 ribu warga Baghdad dibantai. Perpustakaan, saluran irigasi, gedung-gedung bersejarah, dan berbagai transkrip ilmu pengetahuan dihancurkan. Kejadian tersebut terulang lagi saat tahun 2003 ketika tentara Amerika Serikat menyerang Baghdad dan menghancurkan berbagai peninggalan kejayaan Islam yang tersisa.

Cordoba, Spanyol – Dinasti Umayyah
Cordoba terletak di provinsi Andalusia, sebelah barat Spanyol, dan mulai dikuasai Islam sejak 711 M dibawah komando Thariq bin Ziad. Misi penaklukkan dilakukan atas perintah Musa bin Nusair, gubernur Afrika Utara, dibawah pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik (705-715 M) dari Dinasti Umayyah. Selama pemerintahan Dinasti Umayyah berpusat di Damaskus, Toledo adalah Ibukota kekuasaan mereka di Spanyol. Sejak Dinasti Abbasiyah merebut kekuasaan Dinasti Umayyah dan pusat kekuasaan bergeser ke Baghdad, Cordoba dipilih sebagai pusat pemerintahan Dinasti Umayyah di Spanyol.
Pada masa pemerintahan Khalifah Abdurrahman Ad-Dakhil, Cordoba disulap menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan, kesenian, dan kesusasteraan. Puncak kejayaannya adalah pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Rahman An-Nasir dan anaknya, Al-Hakam. Ketika itu, kejayaan dan kekayaan yang dicapai kota tersebut belum pernah tercapai sebelumnya. Terdapat 283 ribu unit rumah tinggal, 900 kamar mandi umum, 800 unit sekolah, 50 rumah sakit, dan 70 perpustakaan berada di Cordoba dengan pendapatan tahunan yang sepertiganya mencapai 6,245 juta keeping emas.
Jejak kejayaan Islam di Cordoba yang masih dapat dilihat hingga saat ini adalah Masjid Cordoba (Le Mezquita) yang mulai dirancang pada 785 M. Awalnya, bangunan Masjid hanya berukuran 70 mdiatas tanah seluas 5,000 m yang berbentuk pelataran. Masjid tersebut memiliki 11 ruangan besar yang tegak lurus terhadap arah kiblat. Tiap ruangan dibatasi 11 deretan arcade yang atapnya memiliki lengkungan dan setiap deretan mempunyai 11 tiang kolom sehingga masing-masing ruangan seolah-olah memiliki 20 tiang kolom. Tiang-tiang kolom yang merupakan barang antik dari Romawi tersebut berjumlah 110 tiang.
Masjid Cordoba kini memiliki panjang mencapai 175 m dengan lebar 134 m dan tinggi 20 m. Terdapat sembilan pintu yang seluruhnya terbuat dari tembaga kuning, kecuali sebuah yang terbuat dari emas murni. Kemegahan Masjid ini pun sangat terlihat pada ruang mihrab. Masjid Cordoba merupakan saksi bisu jejak kejayaan Islam di Cordoba yang masih dapat dilihat hingga saat ini.
Masa kejayaan Cordoba hanya bertahan selama 320 tahun dan harus berakhir tragis, karena perebutan kekuasaan yang tak kunjung usai. Warisan ilmu pengetahuan dan kejayaan peradaban yang telah dibangun pun menghilang sejak Islam terusir dari tanah Cordoba pada 1031 M.
***
Itulah beberapa jejak kejayaan Islam yang ada. Peradaban Islam berkuasa silih berganti dengan berbagai perkembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan tehnologi yang melebihi masanya. Pergantian masa kejayaan merupakan pelajaran berharga bagi kita semua bahwa setiap yang bermula pasti akan berakhir. Selalu yakin bahwa Islam akan kembali berkuasa di bumi Allah SWT ini. Tetap berusahalah untuk menjadi Agen Muslim yang baik dimanapun kamu berada. Pelajari berbagai makna tersirat yang ada pada berbagai jejak kejayaan Islam di bumi ini. Jelajahi bumi Allah SWT, kagumi keindahan-Nya, dan syukuri segala karunia-Nya.


Copyright : HijUp Blog  

Label:

00.44 | 0 Cloud(s)
Dialog Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis


Al-Quran melalui banyak dialognya menunjukkan manifestasi keinginan manusia untuk mencapai kesempurnaan dan hidayah ilahi. Nabi Sulaiman as merupakan seorang nabi yang diberi ilmu dan pengetahuan yang banyak oleh Allah Swt. Di antaranya, beliau bisa memahami bahasa burung dan hewan lain bahkan angin serta sebagian unsur-unsur alam berada di bawah kekuasaannya. Kekuatan dan kekayaan Nabi Sulaiman menggambarkan sedikit tentang kekuasaan manusia yang dijanjikan di akhir zaman atas nikmat-nikmat alam semesta sebagai pembawa pesan-pesan global yang penuh dengan kedamaian, keamanan dan keadilan.

Di sela-sela kehidupan yang paling sensitif, Nabi Sulaiman berhadapan dengan seorang wanita yang memiliki keistimewaan dari sisi akal, hikmah dan pemikiran. Ia adalah Balqis, Ratu Saba yang sangat kuat dan kaya. Karena ingin mencapai kesempurnaan abadi dan ideologi yang hakiki, ia bergabung dengan Nabi Sulaiman demi mendekatkan diri kepada Allah dan mencoba menikmati kelezatan spiritual di jalan ini.

Tidak jauh dari Yaman, pasukan Nabi Sulaiman yang terdiri dari jin, manusia dan burung-burung berkumpul sampai di lembah tempat tinggal para semut. Seekor semut berkata, "Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari!"

Nabi Sulaiman tersenyum mendengar ucapan semut itu dan berkata, "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."

Sulaiman memeriksa burung-burung kemudian berkata, "Mengapa aku tidak melihat hud-hud. Apakah dia termasuk yang tidak hadir? Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang."

Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud) lalu berkata, "Aku telah mengetahui sesuatu yang belum kamu ketahui dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini."



Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka (masyarakat) dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.



Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah dan setan menjadikan perbuatan-perbuatan mereka itu indah bagi mereka kemudian menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapatkan petunjuk.



Sulaiman merasa takjub akan cerita ini dan berkata, "Akan kami lihat. Apakah kamu benar ataukah termasuk orang-orang yang bohong."



Pergilah bawalah suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah reaksi apa yang akan mereka lakukan?"



Setelah menerima surat, Ratu Saba berkata, "Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia."



Sesungguhnya surat itu dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang....(pesanku adalah) janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri."



Kepada para penasihatnya Ratu Saba berkata, "Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)."



Mereka berkata, "Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan?"



Ratu berkata, "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikianlah yang akan mereka perbuat."



Menurut Ratu Saba, saat ini perang bukan hal yang baik. Sehingga ia berkata:



"Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu."



Maka tatkala utusan ratu Saba itu sampai kepada Sulaiman, Nabi Allah ini menyambut mereka dengan hormat tapi dia tidak mau menerima hadiah-hadiah mereka seraya berkata, "Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepada kalian, tetapi kalaian merasa bangga dengan hadiah kalian."



Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina."



Balqis tahu ia tidak mampu bertahan dan perang menghadapi Sulaiman dan kekuasaannya. Oleh karena itu ia mengambil keputusan untuk mendatangi istana Sulaiman dan Baitul Maqdis bersama para pembesar pemerintahannya.



Begitu Sulaiman mendengar bahwa Balqis bersama rombongannya akan datang, kepada para sahabatnya Sulaiman berkata, "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?"



'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin berkata, "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya."



Seseorang lainnya yang mempunyai ilmu dari Al Kitab berkata, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, langsung ia bersyukur kepada Allah dan berkata, "Ini merupakan karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia."



Kemudian Sulaiman memerintahkan agar meletakkan singgasana itu di samping singgasananya sehingga kita lihat apakah ia mengenal singgasananya ataukah tidak?



Sulaiman berkata, rubahlah (hiasilah) singgasananya untuknya sehingga tidak dikenal, maka kita lihat apakah ia mengenalnya ataukah tidak akan mengenalnya.



Ketika ia datang. Kepadanya dikatakan, apakah singgasanamu seperti ini? Dia menjawab, "Sepertinya ini singgasanaku. kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang muslim (yang berserah diri).



Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.



Dikatakan kepadanya, "Masuklah ke dalam istana." Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman, "(Ini bukan air) sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca." Pada saat itu ratu Saba merasa takjub dan baru memahami tanda-tanda kekuasaan Allah. Kemudian menyatakan keimanannya kepada Sulaiman dan Tuhannya Sulaiman dan berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam."  (Kisah ini diambil dari ayat 17-44 surat an-Naml) (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

Label: